5 Alasan Mengapa Balas Dendam Dilarang dalam Islam

Balas dendam bukan tindakan yang bagus untuk siapa saja hingga tidak pantas dilaksanakan. Balas sakit hati dilarang dalam Islam. Mungkin pernah rasakan sakit hati, iri, sedih, atau berasa tersinggung sama orang lain. Telah selayaknya hal tersebut terjadi, karena manusia memang semacam itu. Kadang, ada saatnya kita meredam kemarahan dan pada akhirnya memunculkan rasa sakit hati.

Kadang bila kemarahan kita begitu dalam, kita akan inginkan agar orang yang sakiti hati kita rasakan hal sama, apakah yang kita alami. Ini kerap disebutkan dengan “balas sakit hati”, yakni membalas tindakan yang dilaksanakan seseorang ke kita dengan rasakan hal sama. Apa boleh oleh karenanya?

Sahabat, membalas sakit hati sebagai tindakan jelek yang tidak dibolehkan dalam Islam. Menurut Islam, salah satu langkah terbaik untuk `membalas sakit hati` dengan jadi jiwa yang pemaaf.

Disamping itu, jadi pemaaf dapat membuat kita semakin tenang dan nyaman. Hati dan pemikiran kita akan berasa enteng dan tenang. Sudah pasti membalas sakit hati berbeda dengan saat membalas tindakan yang dzalim.

Sudah pasti kadang kita berasa jika seorang yang menjelek-jelekkan kita, harus kita balas, karena pada waktu itu kita kemungkinan berasa benar-benar sakit hati. Tetapi, tentang ini Rasulullah SAW bersabda:

“Jika ada seorang yang memakimu atau menjelek-jelekanmu dengan noda yang dia kenali ada kepadamu, karena itu jangan sampai kamu balas memburukkannya dengan noda yang kamu kenali ada kepadanya. Karena itu pahalanya untuk diri kamu dan dosanya buat dia,” (HR. Al Muhamili dalam Amalinya no 354, Hasan).

Karakter pendendam benar-benar dilarang dalam islam sebab bisa jadi memperburuk adab seorang. Disamping itu, karakter ini dapat menghindari kita ke Allah SWT. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar membenci karakter pendendam, dan benar-benar mengajnurkan kita menjadi orang yang pemaaf.

Jika balas dendam itu masih dilaksanakan karena sangat bencinya pada suatu hal, karena itu yang berkaitan akan mendapatkan dampak jelek. Di bawah ini ialah lima factor kenapa balas sakit hati dilarang seperti dikutip ditebuireng.co.

1.Membenamkan kebencian dalam Jiwa

Sholat Zuhur Paling akhir Cucu Nabi Al-Husain di Medan Karbala Saat Rasulullah Kabarkan Kembali Suburnya Jazirah Arab 5 Rugi Tiba Telat Sholat Berjamaah di Mushola

Orang yang melakukan perbuatan balas sakit hati bukan orang yang terhormat. Dawud bin Rasyid mencuplik pengucapan orang arif India yang mengatakan, “Saya tidak menang menantang orang bodoh, tapi saya tidak membalas sakit hati.”

Dari Ibnu al-Kalabi dari ayahnya, ia menjelaskan jika Salam bin Nawfal al-Daili ialah guru Bani Kenana. Satu malam seorang dari Bani Kenana keluar untuk menantang dengan pedang. Lantas ia dibawa ke hadapan Salam bin Nawfal dan menanyakan masalah apa yang telah kamu dilaksanakan orang itu.

Salam mengingati jika tidak ada fungsinya membalas sakit hati. Karena lebih terhormat meredam kemarahan, dan maafkan orang yang melakukan perbuatan jelek pada kita. Malah membalas sakit hati ialah tindakan bodoh karena mentoleransi atau memasukkan kedengkian dalam jiwa dan hartanya.

2.Bukan perbuatan terhormat

Balas sakit hati itu bukan tindakan yang terhormat. Orang arif berbicara, “Bukan rutinitas yang terhormat untuk membalas sakit hati secara cepat, dan bukan salah satunya persyaratan kemurahan hati dan hilangkan keberkahan.

3.Tidak diapresiasi

Orang yang lakukan balas sakit hati tak perlu diberi perkataan terima kasih dan tak perlu disanjung. Al-Abshihi berbicara, “Orang yang membalas sakit hati sudah mengobati kemarahannya dan ambil haknya. Hingga ia tidak harus disyukuri atas tindakannya itu.”

4.Bakal menyesal

Balas sakit hati itu akan dituruti rasa penyesalan, yakinlah. Ini seperti pengucapan Ibnu Qayyim, “Tidak ada yang pernah membalas sakit hati. Bila dilaksanakan, penyesalan akan tiba.”

5.Menimbulkan kebencian

Membalas sakit hati tidak datangkan kebaikan. Tindakan itu malah memunculkan kedengkian di tengah-tengah warga.

Pendidikan Keluarga di Kenormalan Baru Pasca Covid-19

Perbincangan tentang Kenormalan Baru (The New Normal) mulai kedengar sayup-sayup dan makin keras. Pengakuan Ketua WHO jika kita belum menyaksikan wabah ini berkurang dalam kurun waktu dekat berpengaruh kesemua baris kehidupan kita, terhitung pengajaran beberapa anak.

Pendidikan Keluarga di Kenormalan Baru Pasca Covid-19

Pendidikan dalam Kedaruratan

Pada saat ini, arah pengajaran ambil anggapan dan sudut pandang “kedaruratan”. Pada keadaan genting, sasaran perolehan pengajaran dilonggarkan. Konsentrasi khusus pada kesehatan serta keselamatan (fisik dan psikis). Supaya mekanisme tidak bangkrut, standard di turunkan dan penilaian dilonggarkan.

Mekanisme evaluasi jarak jauh (PJJ) dikenalkan. Penelusuran mode belajar online dilaksanakan. Dengan komplikasi keadaan di atas lapangan, susah ditegaskan efektifitasnya. Semuanya dimaklumi sebab keadaan sedang genting. Seluruh orang belum siap. Sekolah, guru, anak, orang-tua, Dinas, dan kementrian semua terkejut dan usaha menyesuaikan.

Dalam kenormalan baru, yang pertama perlu kita kerjakan selaku keluarga ialah membuat fondasi aman, yakni konsentrasi pada kesehatan fisik dan psikis anak. Itu yang khusus.

Kemudian baru kita pikirkan dan cari pemikiran baru dan fresh mengenai pengajaran beberapa anak.

Terkait dengan SOLE, situs jayaedu.com menyatakan salah satunya arah penting yang penting dipersiapkan pada beberapa anak ialah jadi pembelajar berdikari (self-regulated learner). Proses belajar tidak cuman fokus pada transfer pengetahuan dari guru ke anak dengan konsentrasi penilaian menghitung pengetahuan anak. Proses belajar yang khusus diperuntukkan supaya anak trampil cari pengetahuan sendiri.

Pertanyaan kebalikannya, apa orang-tua punyai alternatif lain? Apa kita terus akan menanti, sesaat anak kita lagi berkembang tiap hari? Bila opsi paling logis buat kita dalam kenormalan baru ialah temani proses belajar beberapa anak kita karena wabah yang tidak juga habis, karena itu kita perlu cari proses yang paling memungkinkannya untuk kita kerjakan.

Proses ini sudah pasti tidak gampang sebab menyertakan alih bentuk budaya yang besar sekali dari tidak percaya pada kekuatan belajar alami anak (hingga anak harus ditujukan, diperlihatkan, bahkan juga diminta ke arah jalan yang “betul”) jadi memercayai jika tiap anak mempunyai kemauan belajar yang alami dan menjadi otonom (merdeka).

Self Management dan Learning Skills

Ada 2 poin utama yang penting dilaksanakan terkait dengan SOLE dan Pembelajar Berdikari, yakni tumbuhkan ketrampilan manajemen diri (self management) dan mempertajam ketrampilan belajar (learning skills).

Pembelajar berdikari mengasumsikan otonomi dan kemerdekaan anak selaku dasarnya. Karena itu, anak perlu belajar mengenal keperluan dan kemauannya, belajar memutuskan arah, dan belajar manajemen proses belajarnya sendiri, mulai berencana aktivitas, mengurus aktivitas, menyelesaikan, sampai lakukan penilaian dan refleksi.

Secara ringkas, proses belajar mengenai manajemen diri dapat diawali dengan memberi ruangan untuk anak untuk bikin agenda aktivitas harian mereka sendiri. Proses ini kemungkinan tidak gampang. Kegagapan memungkinkan muncul karena sejauh ini beberapa anak cuman jalani agenda yang dibuatkan seseorang. Saat kemerdekaan diberi, ketidaktahuan memungkinkan berlangsung. Tetapi kemerdekaan itu dibutuhkan selaku persyaratan awalnya kemandirian.

Disini peranan orang-tua (dan guru) untuk menuntun beberapa anak berencana arah belajar dan pengendalian proses belajar mereka sendiri. Orang-tua dan guru bisa bertindah selaku fasilitator yang memberi beberapa ide dan peneguhan kemandirian mereka.

Setiap peristiwa selalu mengandung dua segi sudut pandang seperti koin. Rintangan kita ialah cari kesempatan survival dalam kejadian yang memberikan ancaman keberadaan sama seperti yang sedang kita menghadapi di saat ini.

Itu adalah proses dan pencarian kita bersama saat ini.